Untitled

Cairan kental berwarna merah pekat masih bisa terlihat walau tidak ada cahaya sama sekali yang menerangi ruangan itu, bau anyirnya mulai menyengat, mengalir melalui sela2 kulit kaki putih bersihnya yang tergeletak tak berdaya di lantai yang terbuat dari kayu itu..

Sebulan sebelumnya…

“aku telat” pesan singkat itu terkirim ke sebuah nomor di seberang sana setelah putus asa, berusaha untuk kesekian kalinya menghubungi langsung nomor yang sudah dihapal di luar kepalanya itu , menunggu sebuah balasan yang berharap bisa menolongnya dari entah mimpi buruk atau justru sebenarnya mimpi indah yang belum saatnya tiba..

semenit, dua menit, setengah jam, satu jam, setengah hari, hingga satu hari dihabiskan hanya untuk menunggu balasan dari pesan yang dia kirimkan melalui telepon genggamnya, mengapa susah sekali mengetik sebuah kalimat, bukankah hanya menggabungkan 26 huruf dan 10 angka, untuk merangkaikan sebuah kalimat sebagai jawaban, pikirannya berkecamuk tak karuan.

matanya tidak dapat lagi menahan bendungan yang sudah dia tahan beberapa hari ini,” tolong berikan aku jawaban, jangan diam seperti ini” dikirimnya lagi pesan singkat itu..

*** sms tone***

dengan tergesa2, sambil berharap2 cemas gadis itu membuka inbox di handphonenya..

sender : +6281158*****

“maafkan aku, aku harus berbuat apa, aku tidak siap, tidak seharusnya ini terjadi, aku mohon, aku menyayangimu tapi aku belum siap,
aku pasti datang, sabarlah, aku sedang mencari jalan keluar untuk ini semua, kumohon jangan membenciku, aku menyayangimu”

sore itu di tengah hujan yang mredam jeritan gadis itu, masih tercium bau anyirnya cairan itu, tidak ada kata yang bisa terucapkan, matanya sudah terlalu lelah untuk mengeluarkan cairan bening yang membanjiri wajahnya sedari tadi, suaranya hilang menahan rasa sakit yang barusan dia alami,

“maaf, cuma ini jalan keluar yang bisa kulakukan, pasti sakit sekali, maafkan aku” suara berat di sampingnya merasa bersalah, & entah raut wajah itu menggambarkan sebuah penyesalan atau justru sebuah kelegaan…

Si gadis masih terkulai lemah, “sakit ini masih bisa kutahan, tapi… sakit di hati ini tidak akan pernah terlupakan” tangannya masih saja meremas kain yang melekat di dadanya, air matanya mengalir lagi bersama hujan yang ikut menangis bersamanya…

Advertisements
Published in: on June 30, 2010 at 2:55 am  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://stilltrytowrite.wordpress.com/2010/06/30/untitled-2/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 CommentsLeave a comment

  1. Mengembangkan sebuah imajinasi liar 🙂

  2. dilanjutin dong ceritanya..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: