Suara hati..

Aku hanyalah segumpal daging yang berselimutkan darah dan susunan berbagai macam sel milik wanita di luar tubuhku di sana

Aku tidak lebih besar dari dua tangannya yang saling menadah untuk memohon doa..

Aku selalu bersembunyi di balik kulit dan daging  wanita pemilik diriku…

Aku memang kecil, tapi aku bisa merasakan apa yang wanita itu rasakan,

ketika ia sedang tertawa, aku ikut merasakannya..

ketika ia menangis, akupun ikut merasakan kesedihannya…

Tapi terkadang ketika aku menangis, aku heran wanita di luar sana tetap tertawa, tetap menarik garis di bibirnya sehingga selalu membentuk garis senyum, padahal diriku sedang teriris pedih, bergejolak memompakan darah keberbagai aliran tubuh sehingga membuat tekanan, bahkan terkadang aku ikut  bekerjasama sistem limbik, yg mengatur emosi dan fisiologi tubuh
ada di otak untuk dapat mengeluarkan air mata karena tidak dapat menahan rasa sakitnya, tapi wanita itu, malah berusaha sekuat mungkin supaya air matanya tidak menetes, memalingkan wajah,  supaya tidak terlihat air yang menggenang dimatanya…

Bersabarlah sayang…

Semua akan indah pada waktunya..

Advertisements
Published in: on September 15, 2010 at 9:19 am  Leave a Comment  

Cinta Kasih

Secangkir teh wangi & nikmat rasanya, akan serta memberikan kita kekuatan. Namun jika tehnya terlalu pekat, teh itu menjadi pahit & tidak dapat diminum. Seperti itu pulalah cinta kasih di dunia ini.

Cinta kasih yang meminta suatu balasan tidak akan dapat bertahan lama. Apa yang akan langgeng adalah cinta kasih yang tanpa wujud, tak tercemari & tak menuntut.

Setiap wanita yang religius harus mengembangkan pikiran & tubuhnya, sehingga dia menjadi seperti cahaya rembulan, halus & lembut.
Kita harus memperluas pikiran & memancarkan cahaya kebijaksanaan kita. Kita harus membuat seluruh keluarga kita, atau setiap orang yg kenal dengan kita, merasa seperti mereka bermandikan cahaya rembulan yang menyejukkan. Dengan cara ini,kita mengasihi setiap orang, kita akan mencapai arti sejati cinta kasih & dapat memperbaiki watak kita.

Ubahlah kemarahan menjadi kelembutan, & ubahlah kelembutan menjadi cinta kasih. Dengan cara ini, seluruh dunia akan bertambah sempurna.

Published in: on September 15, 2010 at 8:24 am  Leave a Comment  

Perbedaan, perlukah dipermasalahkan??

Waktu itu saya sedang browsing di salah satu situs jejaring sosial, dimana salah seorang akunnya membuat postingan yang judulnya begini ” Woi yang merasa Cina masuk sini ” entah mengapa judul tersebut cukup memancing banyak orang untuk berkomentar, dari yang bagus2 kata2nya sampai yang kasar, hanya karena kesalahpahaman judul, sebenarnya sih isi postingannya tersebut bagus banget, mengajak kita untuk tidak membeda2kan antar suku, hanya saja judulnya cukup memancing orang untuk terprovokasi, dan terus terang saya pun akhirnya tergoda untuk mengomentari postingan tersebut.

Terlahir dari suku dan status sosial yang berbeda, membuat hidup saya lebih kaya akan warna yang selalu menghiasi setiap langkah2 saya, tidak semuanya indah tapi entah mengapa selalu ada kebetulan menghiasi kisah saya.

Ayah Cina, Ibu Mandar-Banjar, kalian tidak akan menemukan ciri2 itu dari tubuh saya, dari namapun tidak nampak, malah setiap kali orang berkenalan dengan saya selalu mengatakan, “Ika pasti anak pertama ya, pasti orang Jawa makanya dinamakan Ika atau biasanya  Eka, kalo cowo pasti namanya Eko, iya kan??” dan paling saya hanya menjawab dengan senyuman mengiyakan dari pada harus menjelaskan asal usul keluarga yang belum lagi mereka pasti ragukan karena mengcomparekan dengan warna kulit saya yang tidak terlihat putih, & semua itu di dukung dengan fasihnya saya berbahasa Jawa, yang saya dapatkan sewaktu tinggal bersama dilingkungan orang Jawa, maka tidak ada keraguan bagi mereka untuk mengatakan saya orang Jawa.

Saya memang tidak pernah mengakui bahwa saya orang Cina, karena hal itu cuma akan jadi bahan pertanyaan atau ejekan yang berkepanjangan, walaupun sebenarnya saya sudah terbiasa, tapi entah mengapa di balik kulit saya yang gelap, mata saya yang tidak sipit, & ketidakpintaran saya menggunakan bahasa cina, justru saya paling mudah bergaul dengan orang Cina di lingkungan kerja saya, kecuali keluarga saya sendiri ( jangan tanyakan mengapa? ) , saya sangat benar2 menyukai masakan Cina, suka lagu2 cina, suka drama2 cina, korea dan sebagainya & pacar saya sebelum2 nya memang bukan china tetapi ebtah mengapa mereka semua putih & sipit2 seperti cina hehehe ngarep ( mode : on ), rasanya semua serba kebetulan, hehehe..

Nah mengenai China, saya sering sekali mendengar pandangan orang tentang china, entah dari segi positif maupun negatifnya begitupula sebaliknya, tapi dengan dua darah berbeda mengalir dalam tubuh saya, saya sangat mensyukuri akan hal tersebut, setidaknya saya merupakan bentuk yang menyatu dari dua kebudayaan yang berbeda, & saya yakin bahwa bagaimanapun asal usul seseorang, mereka semua tetap sama di mata Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada yang berbeda kecuali kualitas keimanan mereka masing2 yang akhirnya menentukan baik buruknya kelakuan mereka sendiri..

Jadi jangan hanya karena warna kulit,ras, latar belakang kebudayaan , & suku yg berbeda kita berfikir negatif & membatasi pergaulan dengan orang lain, selama itu memang baik, mengapa harus dipermasalahkan.. dengan justru banyaknya perbedaan tersebutlah yang mampu ikut andil dalam mewarnai hidup kita, ya toh?? 🙂

Published in: on December 24, 2009 at 4:00 pm  Leave a Comment  

Mempelajari Kedewasaan..

Dua minggu sudah ketika dia memutuskan untuk meninggalkanku, masuk sebuah message ke FB ku “ maafkan atas semua perlakuanku padamu, pasti kamu akan bisa lebih baik dari sekarang, untuk aku, sekarang aku sedang mempersiapkan diri & mental untuk menghadapi karma yang nantinya akan datang karena perbuatanku sendiri, terimakasih banyak.”  Kuklik reply di inbox ku “ aku selalu mendoakan yang terbaik buatmu, bukan hak aku untuk menghukummu, cara terbaik membuatku bahagia sekarang adalah dengan membuat orang lain bahagia, & bila kamu merasa bahagia sekarang ini, akupun ikut bahagia” dan saya akhiri dengan mengklik sent dengan berusaha keras menahan air yang mencoba jatuh dari mata saya, walaupun sebenarnya luka di hati masih membuka, antara setengah hati mengucapkan kata2 itu, ingin rasanya menuliskan kata2 tidak terima, tapi percuma toh sekarang dia bukan milik saya lagi, saya mencoba ikhlaskan walau benar2 tidak mudah,  tapi alhamdulillah setelah itu hampir sebulan ini saya tidak merasakan sakit lagi bila mengingatnya, kami pun akhirnya kembali berkomunikasi dengan baik, walaupun hanya melalui email, sekedar untuk bertukarpikiran saja, yang ada saya semakin semangat memperbaiki diri, salah satunya berusaha menjadi dewasa..

“kamu dewasa kok ka, padahal aku tau kamu pasti sakit mengatakan hal itu, sabar ya” temanku coba menenangkanku. “Saya belum dewasa, dewasa itu ga cengeng kaya saya, ga cengengesan, harus bisa jaga sikap, baru juga kirim message kaya gini di bilang dewasa, kalo saya dewasa mungkin dia ga akan meninggalkan saya” jawab saya, “jangan salah ka, dengan pengalaman seperti ini, kamu malah mulai menapaki kedewasaanmu, dewasa itu ka, bukan berarti harus bersikap jaim, menjaga untuk berbicara & tertawa halus, harus selalu melakukan hal2 yang terlihat baik, harus selalu tegar dalam keadaan apapun, ga haruslah seperti itu, karena rasa khawatir, marah, sedih, dan sebagainya itu merupakan hak setiap manusia, hanya kita harus bisa menempatkan kapan kita bisa bersikap seperti itu & tanpa mengganggu pihak yang lain, setiap orang punya karakter masing2, ada kalanya yang terlihat sikapnya seperti anak2, tetapi sebenarnya cara dia berfikir, mengatur hidupnya dia bisa bersikap dewasa, atau sebaliknya” jawaban dari teman saya ketika saya bertanya

Jadi tolak ukur seseorang di anggap dewasa itu dilihat dari mana?? Sampai sekarang terkadang saya masih saja merasa kekanak-kanakan, padahal kata temen dekat saya diantara mereka saya terlihat lebih dewasa, tapi belum tentu semua berpendapat begitu, teman lelaki saya malah berkata “ kamu kok ga bisa bersikap dewasa si ka??” jadi sikap seperti apa yang menunjukan seseorang di anggap dewasa..

“Kenapa kamu begitu ingin menjadi dewasa??” Tanya teman saya, “bukan menjadi dewasa kalau berdasarkan umur saya sudah masuk ukuran dewasa bukan remaja lagi, tapi bersikap dan berfikir secara dewasa” ralat saya,  karena menurut saya dengan kedewasaan kita akan membawa hidup kita ke jalan yang lebih baik, karena itu saya sangat ingin belajar bersikap dan berfikir secara dewasa, tapi bukan untuk menjadi dewasa yang kekanak-kanakan dalam artian lain sok dewasa, yang akhirnya kebanyakan malah jadi menggurui…

Sampai sekarang saya masih belajar mengenali diri saya sendiri, itu langkah awal untuk menuju kedewasaan menurut saya, belajar memilah mana yang baik dan buruk, dan belajar bertanggung jawab terhadap semua keputusan yang telah saya ambil, dan seperti teman saya bilang, pengalaman menjalani hidup juga bisa membuat kita bersikap dan berfikir semakin dewasa, semakin banyak pengalaman yang kita rasakan semakin terasah pola pikir hidup kita, sekarang saya mulai belajar menapaki kedewasaan yang sesungguhnya semoga dengan kedewasaan ini, saya bisa belajar memperbaiki diri saya pribadi supaya bisa membahagiakan diri sendiri dan orang lain, doakan saya…

Published in: on October 23, 2009 at 10:11 am  Leave a Comment